Beranda | Artikel
Khutbah Jumat Singkat: Hakikat Takbir
8 jam lalu

Khutbah Jumat Singkat: Hakikat Takbir ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 5 Dzulhijjah 1447 H / 22 Mei 2026 M.

Khutbah Jumat Pertama: Hakikat Takbir

Banyak orang yang bertakbir dengan lisan, tetapi tidak membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam jiwanya. Salah satu indikator utama seseorang mengagungkan dan membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan membesarkan perintah, larangan, serta syariat-Nya.

Pada keadaan tersebut, seorang muslim akan betul-betul memperhatikan setiap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wujud dari pengagungan terhadap perintah tersebut adalah adanya usaha sungguh-sungguh untuk mempelajari rukun-rukun, syarat-syarat, serta kewajiban dan sunah-sunahnya demi mencapai kekhusyukan. Seseorang yang mengagungkan ibadah shalat akan berusaha menjaganya dengan penuh kesungguhan dan semangat. Saat mendengar azan berkumandang, ia segera melangkah ke masjid karena ia mengagungkan shalat berjamaah sebagai bagian dari syariat Allah ‘Azza wa Jalla, serta merasa sedih ketika terluput dari jemaah.

Begitu pula dengan orang yang mengagungkan puasa Ramadhan. Ia akan menyambut bulan tersebut dengan penuh kegembiraan serta melaksanakannya sekuat tenaga dengan penuh semangat. Saudara seiman, orang yang mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan mengagungkan larangan-Nya. Ia tidak akan berani melakukan kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala walaupun saat berada seorang diri, karena ia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mengawasi dirinya.

Ketika seseorang membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, hatinya pasti akan khusyuk dan tunduk kepada-Nya. Oleh karena itu, di dalam ibadah shalat umat Islam banyak mengucapkan takbir, baik saat memulai gerakan maupun ketika berpindah posisi.

Ibnul Qayyim menjelaskan mengenai rahasia dan hikmah di balik syariat ini, yaitu bahwa orang yang bertakbir dan membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hatinya pasti akan merasakan kekhusyukan. Sebaliknya, apabila di dalam hati seseorang terdapat hal lain yang dinilai lebih besar daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kekhusyukan tersebut tidak akan dapat tercapai. Kekhusyukan di dalam shalat berjalan beriringan dengan tingkat pengagungan serta pembesaran hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seseorang yang membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan merasakan getaran di dalam hatinya saat mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuatlah iman mereka.” (QS. Al-Anfal[8]: 2)

Karena mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia otomatis akan mengagungkan firman-firmanNya di dalam Al-Qur’an yang penuh dengan bimbingan.

Kondisi ini menjadi bahan renungan bagi setiap individu mengenai sejauh mana pengagungan yang telah diberikan terhadap perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala selama ini. Realitas menunjukkan banyak kaum muslimin yang meremehkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti melalaikan shalat, mengabaikan bakti kepada orang tua, memutuskan silaturahim, serta enggan bersedekah. Kelalaian ini terjadi karena mereka tertipu oleh gemerlap kehidupan dunia. Ketika dunia menempati ruang yang lebih besar di dalam hati seseorang melebihi besarnya perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia pasti akan meremehkan seluruh perintah dan larangan-Nya.

Seseorang yang lebih mengagungkan dunia di dalam hatinya akan memandang syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai sesuatu yang remeh. Oleh karena itu, setiap muslim harus menyadari kedudukannya sebagai hamba dan makhluk yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia senantiasa membutuhkan karunia-Nya, mulai dari makanan yang dikonsumsi hingga udara yang dihirup sehari-hari.

Kesadaran akan ketergantungan terhadap karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala ini harus mengantarkan manusia untuk mencintai, mengagungkan, serta membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segenap hati. Setiap individu hendaknya menjadi hamba yang senantiasa tunduk dan patuh, karena semua makhluk akan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla di akhirat kelak untuk dimintai pertanggungjawaban. Kehidupan di dunia ini tidak bersifat selamanya, dan setiap orang pasti akan mengalami kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)

Khutbah Jumat Kedua: Hakikat Takbir

Mengagungkan dan membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara membesarkan serta mengagungkan agama-Nya. Wujud dari pengagungan ini adalah adanya semangat untuk mempelajari Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Umat Islam jangan sampai meniru perilaku orang-orang Yahudi yang enggan mempelajari syariat mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab (Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka tidak lain hanyalah menduga-duga.” (QS. Al-Baqarah[2]: 78)

Kaum Yahudi tersebut bersikap bodoh dan tidak memiliki ilmu tentang kitab Taurat karena enggan mempelajarinya, namun mereka mengklaim diri sebagai ahli kitab dan berbicara tentang agama hanya berlandaskan dugaan semata.

Download mp3 Khutbah Jumat: Hakikat Takbir

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Hakikat Takbir” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56275-khutbah-jumat-singkat-hakikat-takbir/